Monday, February 22, 2016

Waspadai Kolera Unggas



Kolera unggas atau disebut juga dengan Avian Pasteurellosis adalah penyakit menular yang menyerang unggas peliharaan dan unggas liar dengan angka morbiditas dan mortalitas cukup tinggi,antara 10-20%, bahkan pada itik dan kalkun bisa mencapai 50% (http://wiki.isikhnas.com/KOLERA_UNGGAS). Penyakit ini merupakan penyakit umum yang sering dijumpai, terutama pada saat perubahan cuaca seperti sekarang ini, bahkan pada peternakan layer, kolera unggas menjadi 10 besar kasus yang sering terjadi, sehingga menjadi perhatian khusus untuk penangangan nya.


Disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida, yang merupakan jenis bakteri gram Negatif (-), berbentuk basil non motil, tumbuh baik pada media Blood Agar, dan tidak pada Mc Conkey Agar. Penyakit ini bersifat septikemik dan biasanya berjalan akut, tetapi didaerah endemic pada bangsa burung yang kurang peka terhadap penyakit ini dapat terjadi secara kronis.
Penyakit ini dilaporkan pertama kali di Eropa oleh Chabert pada tahun 1872, di Amerika Serikat oleh Salmon pada tahun 1880 dan di Canada oleh Higgins pada tahun 1898. Di Indonesia kejadian klinis ini kolera unggas sudah dilaporkan lama terjadi, namun bakteri penyebab penyakit baru berhasil diisolasi oleh Sri Poernomo pada tahun 1972.





Gambar 1. Pasteurella multocida
       (Sumber : http://library.thinkquest.org/03oct/00946/accounts/micro.htm)

Menurut Partadiredja (1979) di salah satu peternakan itik di Bogor, sejak akhir Desember 1978 sampai akhir maret 1979, telah terjadi musibah serangan Kolera Unggas dengan angka kematian 23 % dri jumlah 3.451 ekor. Kemudian di Bali, wabah Kolera Unggas pada itik telah dilaporkan pada tahun 1979 di kabupaten Badung oleh Hartaningaih dkk. dengan kematian 1.087 ekor (23,3%) dari sejumlah 4.662 ekor selama 3 minggu (Sudana, 1981). Syamsudin (1980) melaporkan kejadian wabah penyakit ini di sebuah peternakan ayam di Ciputat, Tangerang Selatan pada tahun 1979 dengan mortalitas sebanyak 831 ekor dari 1.425 ekor (±58,3%).

Cara Penularan
Penularan dapat terjadi melalui saluran pencernaan, saluran pernapasan terutama pada unggas muda. Penularan juga terjadi lewat luka pada kulit atau luka suntikan. Tungau, lalat, tikus dan burung liar dapat bertindak sebagai vector mekanik yang dapat menularkan kuman dari satu hewan ke hewan yang lainnya. Ayam yang menderita kolera unggas secara kronis merupakan sumber penularan penyakit yang paling penting. Penularan penyakit dapat terjadi melalui sekresi hidung, mulut, atau kotoran ayam yang sakit. Penularan yang penting adalah melalui air minum atau tempat pakan dibanding dengan penularan melalui udara. Kuman masih tetap tinggal didalam saluran pernapasan bagian atas terutama pada hewan lain melalui sekresi hidung. Ketika hewan minum kuman dapat mencemari air minum yang kemudian menajdi sumber penularan.

Gambar 2. Skema Penularan

Identifikasi Penyakit
Masa inkubasi penyakit pada infeksi alam adalah 4-9 hari, dan kolera sendiri dapat berjalan perakut, akut, serta kronis. Pada bentuk perakut biasa nya unggas mati tanpa adanya tanda-tanda klinis yang jelas. Pada permulaan wabah terjadi angka mortalitas tinggi, terutama pada kalkun. Bentuk akut ditandai dengan konjungtivitis dan keluar kotoran dari mata. Daerah facial, balung dan pial membesar, serta terdapat gangguan pernapasan. Feses encer berwarna hijau kekuningan. Unggas mengalami kelumpuhan akibat peradangan pada sendi tarsus. Bentuk kronik dapat terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang dapat berupa infeksi local pada pial, sendi kaki, dan sayap hingga basal otak. Pial membengkak berisi cairan oedema sampai masa perkejuan, terutama pada bangsa unggas yang mempunyai pial besar. Infeksi didaerah kaki dan sayap ditandai dengan kebengkakan pada sendi kaki dan sayap, diikuti kelumpuhan. Gejala tortikolis menandakan ada infeksi lokal pada telinga dan basal otak.


Patologi  Tergantung pada proses penyakit, kolera memberikan kelainan post infeksi mati yang berbeda. Pada bentuk perakut, unggas mati beberapa jam setelah tanda klinis pertama terlihat. Pada otot jantung dan lemak abdominal ditemukan perdarahan ptechie dan echymoses.

Gambar 3. Perdarahan ptechiae pada lemak jantung

Pada bentuk akut ptechie tidak saja pada otot jantung dan lemak abdominal tetapi juga pada ventrikulus, mukosa usus, peritoneum dan paru-paru. Duodenum membengkak berisi eksudat kental. Hati membesar berwarna belang, hiperemi dan ditemukan sarang-sarang nekrosa.

Gambar 4. Nekrosa Pada Hati

Pada organ-organ tersebut terdapat endapan fibrin. Pada ayam petelur terjadi perdarahan sub kapsular pada ovarium dan telur, serta terdapat masa perkejuan pada kantung kuning telur. Pada kalkun sering terjadi pneumonia purulenta bersifat ekstensif.
Pada bentuk kronis hati berwarna kehijauan, tidak selalu disertai pembesaran dan pembentukan sarang-sarang nekrose. Pada unggas yang secara klinis menunjukkan gangguan respirasi, trakea menampakkan peradangan ringan dan mengeluarkan eksudat. Pial membengkak berisi cairan oedema sampai perkejuan. Terjadi abses pada oviduk. Pada sendi-sendi kaki dan atau sayap terjadi arthritis supuratif.

Dampak Yang Ditimbulkan
Berdasarkan data tersebut memang kerugian penyakit kolera itu beragam, dapat berupa kematian, penurunan berat badan, dan penurunan produksi telur. Selain kematian, penurunan produksi pada ayam yang telah bertelur dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
"Kematian yang ditimbulkan memang tidak banyak. Akan tetapi kerugian yang diakibatkan kolera ini cukup signifikan. Bila menyerang ayam yang sedang dalam masa bertelur, penurunan produksi telur yang terjadi cukup lumayan selama beberapa waktu lamanya," jelas seorang praktisi. Maka dari itu penanggulangan penyakit ini perlu diperhatikan dengan baik.



Penanggulangann Penyakit
1.   Kontrol Lingkungan Pendukung
Penanggulangan penyakit sebaiknya dimulai dari tindakan pencegahan, karena lebih baik mencegah daripada mengobati, banyak hal yang dapat dilakukan untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan pendukung terjadinya penyakit, terutama dalam hal pencegahan penyakit Kolera, karena banyak hal bisa saja terjadi walaupun tingkatan penyakit sudah minimal. Diantaranya :

- Mengatur lalu lintas karyawan, mobil angkut, dan sebagainya, terutama pentingnya desinfeksi angkutan / kendaraan yang keluar dan masuk ke dalam kandang, pemberian Virukill (dosis 5-10 ml/liter air) sangat baik untuk pencegahannya.
- Pengontrolan vector yang dapat menyebarkan penyakit, terutama seperti Rhodent, kutu, dan serangga lainnya.
Pemberian Rhodentisida Contrac untuk pengendalian rhodent, sangat baik, karena sifat racun yang kronis dan memiliki LD50 yang baik, sehingga aman untuk diaplikasikan.
Pemberian Insektisida yang efektif untuk membunuh serangga carier, seperti Fatec, Betafox, Concord atau Fly Control yaitu Agita. Karena serangga juga menjadi vector yang sangat ditakuti dalam penyebaran penyakit ini, ditambah pula dengan jumlah serangga yang sangat banyak, dan sifatnya yang mampu bersembunyi pada suatu lokasi tertentu.
-    Penyimpanan pakan dan transportasi ransum yang baik.
- Pemeriksaan sumber-sumber air minum,terutama dengan pemberian antiseptik, namun perlu diperhatikan juga keamanan nya, karena terkait dengan penggunaan langsung ke hewan/ unggas tersebut.

2.   Pengobatan
Untuk mengatasi datangnya penyakit yang mungkin saja beruntun seperti itu, antibiotik yang digunakan dipilih yang efektif kerjanya. Para ahli kesehatan hewan menyatakan karena disebabkan oleh bakteri, penyakit kolera ini dapat diobati dengan menggunakan antibiotik khusus yang bekerja secara sistemik terhadap bakteri Gram-negatif.
Namun, anjur para ahli, sebaiknya pemakaian antibiotik ini juga digilir agar tidak menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik tertentu, karena sensitivitas kuman dapat terjadi.
Beberapa pakar menyarankan pemakaian antibiotik khususnya golongan penisilin seperti amoxycillin maupun sulfa untuk mengatasi serangan kolera pada ayam, maupun septicaemia atau menyebarnya bakteri ke seluruh tubuh. Namun, dengan pola pemeliharaan, dan lingkungan yang berbeda tentunya juga akan mempengaruhi kualitas obat yang diberikan.

Selain antibiotik, preparat sulfa telah disebutkan juga efektif diberikan terhadap kolera, namun dampak pemakaian beberapa golongan sulfa kurang memberikan efek yang bagus, terutama dalam hal kelarutan nya, residual yang diekresikan dari dalam tubuh, tingkat resistensinya, sinergitas nya dengan beberapa jenis antibakterial yang lain, Serta kekuatan nya dalam menanggulangi penyakit bakterial dalam jumlah yang kecil (nilai MIC).

Generasi sulfa terbaru seperti Sulfocloropyridazine dapat dipakai untuk mengobati penyakit kolera pada unggas. Karena Sulfocloropyridazine memiliki kelarutan yang cukup baik, dia mampu larut dalam waktu 2 hingga 4 jam, dan dapat diekskresikan hingga 90 %, sehingga memiliki tingkat residual yang rendah dalam tubuh, memiliki nilai MIC yang baik, serta efektif membunuh bakteri secara sinergis dengan kombinasi obat lain (sehingga mampu memberikan efek luas / broadspektrum sebagai antibakterial).



Gambar 4. MIC Kombinasi Sulfa


Gambar 5. MIC obat terhadap Aktivitas Bakteri

Penggunaan Cosumix Plus bisa digunakan sebagai treatment pengobatan terhadap infeksi kolera unggas. Dengan dosis sebagai berikut :

Cosumix plus 750 medicated feed additive (32 mg/Kg BB) diberikan dengan cara mencampur pakan untuk 3 - 6 hari, sedangkan untuk pemberian lewat air minum, dibagi atas :
           
Dosis Pencegahan : 0,16 g/l atau 80 g/500 l air minum
Dosis Pengobatan : 0,24 - 0,32 g/l atau 120 - 160 g/500 l air minum

Dosis 1-2 gram per liter air minum, diberikan 5 hari berturut-turut.

3.   Kondisi Ketahanan Tubuh
Ketahanan tubuh ayam paling utama ditentukan oleh faktor nutrisi pada pakan yang didukung dengan kondisi lingkungannya. Dengan melakukan monitoring terhadap konsumsi pakan maka secara tidak langsung hal tersebut merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan ketahanan tubuh ayam itu sendiri. Daya tahan tubuh ayam akan menjadi lebih baik pada lingkungan dengan kadar amonia rendah, tidak berdebu, cukup oksigen, temperatur dan kelembaban sesuai serta tidak over crowded (kepadatan berlebih).



Gambar 6. Ayam dan Kandangnya


Untuk lebih mengoptimalkan daya tubuh ayam, maka pemberian multivitamin lengkap menjadi hal penting, terutama multivitamin dengan stabilitas baik, serta memberikan efek daya serap yang cepat.

SuperVita-M merupakan multivitamin yang dilengkapi asam amino dan mineral, yang sangat baik untuk memperbaiki beberapa jaringan yang rusak karena penyakit, dengan daya absorbsi yang bagus, oleh karena nya vitamin, asam amino, serta mineral langsung cepat dapat digunakan oleh tubuh.
Dosis SuperVita-M :
-       500 – 1000 g/ton pakan, sedangkan jika melalui air minum adalah 1 g/4-8 liter air, diberikan 3 hingga 5 hari. 

DAFTAR PUSTAKA
Partadiredja, M., Fachriyan H. Pasaribbu dan C. Sri Utami, 1979. Kejadian Fowl Cholera pada
    Sebuah peternakan itik di daerah Bogor. Media Veteriner, 1 (2) : 27-30.

Poernomo, Sri, 1980. Kasus Pasteurella multocida pada itik. Bull. LPPH, 12 (19) : 42-56.

Sudana, I.G., 1981. Pasteurella multocida pada itik di Bali. Makalah Pertemuan Forum Ilmiah       BPPH dan BKK di Cisarua 19-21 Oktober 1981.

Syamsudin, A., 1980. Vaksin Kolera Unggas Otogenous (VKUO) dan penggunaannya. Bull. LPPH, 12 (20) : 101-105

Sumber PT.Novindo Agritech Hutama :  http://www.novindo.co.id

Sumber : http://library.thinkquest.org/03oct/00946/accounts/micro.htm

Valks, M, 2002. Cosumix Plus. Base, Switzerland



No comments:

Post a Comment