Waspadai Kolera
Unggas
Kolera unggas
atau disebut juga dengan Avian Pasteurellosis adalah penyakit menular yang
menyerang unggas peliharaan dan unggas liar dengan angka morbiditas dan
mortalitas cukup tinggi,antara 10-20%, bahkan pada itik dan kalkun bisa
mencapai 50% (http://wiki.isikhnas.com/KOLERA_UNGGAS). Penyakit ini merupakan penyakit umum
yang sering dijumpai, terutama pada saat perubahan cuaca seperti sekarang ini,
bahkan pada peternakan layer, kolera unggas menjadi 10 besar kasus yang sering
terjadi, sehingga menjadi perhatian khusus untuk penangangan nya.
Disebabkan
oleh bakteri Pasteurella multocida,
yang merupakan jenis bakteri gram Negatif (-), berbentuk basil non motil,
tumbuh baik pada media Blood Agar, dan tidak pada Mc Conkey Agar. Penyakit ini
bersifat septikemik dan biasanya
berjalan akut, tetapi didaerah endemic
pada bangsa burung yang kurang peka terhadap penyakit ini dapat terjadi secara
kronis.
Penyakit
ini dilaporkan pertama kali di Eropa oleh Chabert pada tahun 1872, di Amerika
Serikat oleh Salmon pada tahun 1880 dan di Canada oleh Higgins pada tahun 1898.
Di Indonesia kejadian klinis ini kolera unggas sudah dilaporkan lama terjadi,
namun bakteri penyebab penyakit baru berhasil diisolasi oleh Sri Poernomo pada
tahun 1972.
Gambar 1. Pasteurella multocida
(Sumber : http://library.thinkquest.org/03oct/00946/accounts/micro.htm)
Menurut
Partadiredja (1979) di salah satu peternakan itik di Bogor, sejak akhir
Desember 1978 sampai akhir maret 1979, telah terjadi musibah serangan Kolera
Unggas dengan angka kematian 23 % dri jumlah 3.451 ekor. Kemudian di Bali,
wabah Kolera Unggas pada itik telah dilaporkan pada tahun 1979 di kabupaten
Badung oleh Hartaningaih dkk. dengan
kematian 1.087 ekor (23,3%) dari sejumlah 4.662 ekor selama 3 minggu (Sudana,
1981). Syamsudin (1980) melaporkan kejadian wabah penyakit ini di sebuah
peternakan ayam di Ciputat, Tangerang Selatan pada tahun 1979 dengan mortalitas
sebanyak 831 ekor dari 1.425 ekor (±58,3%).
Cara Penularan
Penularan
dapat terjadi melalui saluran pencernaan, saluran pernapasan terutama pada
unggas muda. Penularan juga terjadi lewat luka pada kulit atau luka suntikan.
Tungau, lalat, tikus dan burung liar dapat bertindak sebagai vector mekanik
yang dapat menularkan kuman dari satu hewan ke hewan yang lainnya. Ayam yang
menderita kolera unggas secara kronis merupakan sumber penularan penyakit yang
paling penting. Penularan penyakit dapat terjadi melalui sekresi hidung, mulut,
atau kotoran ayam yang sakit. Penularan yang penting adalah melalui air minum
atau tempat pakan dibanding dengan penularan melalui udara. Kuman masih tetap
tinggal didalam saluran pernapasan bagian atas terutama pada hewan lain melalui
sekresi hidung. Ketika hewan minum kuman dapat mencemari air minum yang
kemudian menajdi sumber penularan.
Gambar 2. Skema
Penularan
Identifikasi
Penyakit
Masa
inkubasi penyakit pada infeksi alam adalah 4-9 hari, dan kolera sendiri dapat
berjalan perakut, akut, serta kronis. Pada
bentuk perakut biasa nya unggas mati tanpa adanya tanda-tanda klinis yang
jelas. Pada permulaan wabah terjadi angka mortalitas tinggi, terutama pada
kalkun. Bentuk akut ditandai dengan
konjungtivitis dan keluar kotoran dari mata. Daerah facial, balung dan pial
membesar, serta terdapat gangguan pernapasan. Feses encer berwarna hijau
kekuningan. Unggas mengalami kelumpuhan akibat peradangan pada sendi tarsus. Bentuk kronik dapat terjadi beberapa
minggu sampai beberapa bulan, yang dapat berupa infeksi local pada pial, sendi
kaki, dan sayap hingga basal otak. Pial membengkak berisi cairan oedema sampai
masa perkejuan, terutama pada bangsa unggas yang mempunyai pial besar. Infeksi
didaerah kaki dan sayap ditandai dengan kebengkakan pada sendi kaki dan sayap,
diikuti kelumpuhan. Gejala tortikolis menandakan ada infeksi lokal pada telinga
dan basal otak.
Patologi Tergantung pada proses penyakit, kolera memberikan kelainan post infeksi mati yang berbeda. Pada bentuk perakut, unggas mati beberapa jam setelah tanda klinis pertama terlihat. Pada otot jantung dan lemak abdominal ditemukan perdarahan ptechie dan echymoses.
Gambar 3. Perdarahan ptechiae
pada lemak jantung
Pada
bentuk akut ptechie tidak saja pada
otot jantung dan lemak abdominal tetapi juga pada ventrikulus, mukosa usus,
peritoneum dan paru-paru. Duodenum membengkak berisi eksudat kental. Hati
membesar berwarna belang, hiperemi dan ditemukan sarang-sarang nekrosa.
Gambar 4. Nekrosa Pada Hati
Pada
organ-organ tersebut terdapat endapan fibrin. Pada ayam petelur terjadi
perdarahan sub kapsular pada ovarium dan telur, serta terdapat masa perkejuan
pada kantung kuning telur. Pada kalkun sering terjadi pneumonia purulenta bersifat
ekstensif.
Pada
bentuk kronis hati berwarna
kehijauan, tidak selalu disertai pembesaran dan pembentukan sarang-sarang
nekrose. Pada unggas yang secara klinis menunjukkan gangguan respirasi, trakea
menampakkan peradangan ringan dan mengeluarkan eksudat. Pial membengkak berisi
cairan oedema sampai perkejuan. Terjadi abses pada oviduk. Pada sendi-sendi
kaki dan atau sayap terjadi arthritis supuratif.
Dampak Yang
Ditimbulkan
Berdasarkan
data tersebut memang kerugian penyakit kolera itu beragam, dapat berupa
kematian, penurunan berat badan, dan penurunan produksi telur. Selain kematian,
penurunan produksi pada ayam yang telah bertelur dapat berlangsung selama
beberapa hari hingga beberapa minggu.
"Kematian yang ditimbulkan memang tidak banyak. Akan tetapi kerugian yang diakibatkan kolera ini cukup signifikan. Bila menyerang ayam yang sedang dalam masa bertelur, penurunan produksi telur yang terjadi cukup lumayan selama beberapa waktu lamanya," jelas seorang praktisi. Maka dari itu penanggulangan penyakit ini perlu diperhatikan dengan baik.
"Kematian yang ditimbulkan memang tidak banyak. Akan tetapi kerugian yang diakibatkan kolera ini cukup signifikan. Bila menyerang ayam yang sedang dalam masa bertelur, penurunan produksi telur yang terjadi cukup lumayan selama beberapa waktu lamanya," jelas seorang praktisi. Maka dari itu penanggulangan penyakit ini perlu diperhatikan dengan baik.
Penanggulangann
Penyakit
1.
Kontrol
Lingkungan Pendukung
Penanggulangan
penyakit sebaiknya dimulai dari tindakan pencegahan, karena lebih baik mencegah
daripada mengobati, banyak hal yang dapat dilakukan untuk melakukan kontrol
terhadap lingkungan pendukung terjadinya penyakit, terutama dalam hal
pencegahan penyakit Kolera, karena banyak hal bisa saja terjadi walaupun
tingkatan penyakit sudah minimal. Diantaranya :
- Mengatur
lalu lintas karyawan, mobil angkut, dan sebagainya, terutama pentingnya
desinfeksi angkutan / kendaraan yang keluar dan masuk ke dalam kandang,
pemberian Virukill (dosis 5-10
ml/liter air) sangat baik untuk pencegahannya.
- Pengontrolan
vector yang dapat menyebarkan penyakit, terutama seperti Rhodent, kutu, dan
serangga lainnya.
Pemberian Rhodentisida Contrac untuk pengendalian rhodent, sangat baik, karena sifat racun
yang kronis dan memiliki LD50 yang baik, sehingga aman untuk diaplikasikan.
Pemberian Insektisida yang efektif untuk
membunuh serangga carier, seperti Fatec,
Betafox, Concord atau Fly Control
yaitu Agita. Karena serangga juga
menjadi vector yang sangat ditakuti dalam penyebaran penyakit ini, ditambah
pula dengan jumlah serangga yang sangat banyak, dan sifatnya yang mampu
bersembunyi pada suatu lokasi tertentu.
-
Penyimpanan
pakan dan transportasi ransum yang baik.
- Pemeriksaan
sumber-sumber air minum,terutama dengan pemberian antiseptik, namun perlu
diperhatikan juga keamanan nya, karena terkait dengan penggunaan langsung ke
hewan/ unggas tersebut.
2.
Pengobatan
Untuk mengatasi
datangnya penyakit yang mungkin saja beruntun seperti itu, antibiotik yang
digunakan dipilih yang efektif kerjanya. Para ahli kesehatan hewan menyatakan
karena disebabkan oleh bakteri, penyakit kolera ini dapat diobati dengan
menggunakan antibiotik khusus yang bekerja secara sistemik terhadap bakteri
Gram-negatif.
Namun, anjur para ahli, sebaiknya pemakaian antibiotik ini juga digilir agar tidak menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik tertentu, karena sensitivitas kuman dapat terjadi.
Beberapa pakar menyarankan pemakaian antibiotik khususnya golongan penisilin seperti amoxycillin maupun sulfa untuk mengatasi serangan kolera pada ayam, maupun septicaemia atau menyebarnya bakteri ke seluruh tubuh. Namun, dengan pola pemeliharaan, dan lingkungan yang berbeda tentunya juga akan mempengaruhi kualitas obat yang diberikan.
Namun, anjur para ahli, sebaiknya pemakaian antibiotik ini juga digilir agar tidak menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik tertentu, karena sensitivitas kuman dapat terjadi.
Beberapa pakar menyarankan pemakaian antibiotik khususnya golongan penisilin seperti amoxycillin maupun sulfa untuk mengatasi serangan kolera pada ayam, maupun septicaemia atau menyebarnya bakteri ke seluruh tubuh. Namun, dengan pola pemeliharaan, dan lingkungan yang berbeda tentunya juga akan mempengaruhi kualitas obat yang diberikan.
Selain
antibiotik, preparat sulfa telah disebutkan juga efektif diberikan terhadap kolera,
namun dampak pemakaian beberapa golongan sulfa kurang memberikan efek yang
bagus, terutama dalam hal kelarutan nya, residual yang diekresikan dari dalam
tubuh, tingkat resistensinya, sinergitas nya dengan beberapa jenis antibakterial
yang lain, Serta kekuatan nya dalam menanggulangi penyakit bakterial dalam
jumlah yang kecil (nilai MIC).
Generasi sulfa
terbaru seperti Sulfocloropyridazine
dapat dipakai untuk mengobati penyakit kolera pada unggas. Karena
Sulfocloropyridazine memiliki kelarutan yang cukup baik, dia mampu larut dalam
waktu 2 hingga 4 jam, dan dapat diekskresikan hingga 90 %, sehingga memiliki
tingkat residual yang rendah dalam tubuh, memiliki nilai MIC yang baik, serta
efektif membunuh bakteri secara sinergis dengan kombinasi obat lain (sehingga
mampu memberikan efek luas / broadspektrum sebagai antibakterial).
Gambar 4. MIC Kombinasi
Sulfa
Gambar 5. MIC obat
terhadap Aktivitas Bakteri
Penggunaan
Cosumix Plus bisa digunakan sebagai
treatment pengobatan terhadap infeksi kolera unggas. Dengan dosis sebagai
berikut :
Cosumix plus 750 medicated feed additive
(32 mg/Kg BB) diberikan dengan cara mencampur pakan untuk 3 - 6 hari, sedangkan
untuk pemberian lewat air minum, dibagi
atas :
Dosis Pencegahan : 0,16 g/l atau
80 g/500 l air minum
Dosis Pengobatan
: 0,24 - 0,32 g/l atau 120 - 160 g/500 l
air minum
Dosis 1-2 gram per liter air minum,
diberikan 5 hari berturut-turut.
3.
Kondisi
Ketahanan Tubuh
Ketahanan tubuh ayam paling utama ditentukan oleh faktor
nutrisi pada pakan yang didukung dengan kondisi lingkungannya. Dengan melakukan
monitoring terhadap konsumsi pakan maka secara tidak langsung hal
tersebut merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan ketahanan tubuh ayam itu
sendiri. Daya tahan tubuh ayam akan menjadi lebih baik pada lingkungan dengan
kadar amonia rendah, tidak berdebu, cukup oksigen, temperatur dan kelembaban
sesuai serta tidak over crowded (kepadatan berlebih).
Gambar 6. Ayam dan Kandangnya
Untuk lebih
mengoptimalkan daya tubuh ayam, maka pemberian multivitamin lengkap menjadi hal
penting, terutama multivitamin dengan stabilitas baik, serta memberikan efek
daya serap yang cepat.
SuperVita-M merupakan multivitamin yang dilengkapi
asam amino dan mineral, yang sangat baik untuk memperbaiki beberapa jaringan
yang rusak karena penyakit, dengan daya absorbsi yang bagus, oleh karena nya
vitamin, asam amino, serta mineral langsung cepat dapat digunakan oleh tubuh.
Dosis SuperVita-M :
-
500
– 1000 g/ton pakan, sedangkan jika
melalui air minum adalah 1 g/4-8
liter air, diberikan 3 hingga 5 hari.
DAFTAR PUSTAKA
Partadiredja,
M., Fachriyan H. Pasaribbu dan C. Sri Utami, 1979. Kejadian Fowl Cholera pada
Sebuah peternakan itik di daerah Bogor. Media Veteriner, 1 (2) : 27-30.
Poernomo,
Sri, 1980. Kasus Pasteurella multocida
pada itik. Bull. LPPH, 12 (19) : 42-56.
Sudana,
I.G., 1981. Pasteurella multocida
pada itik di Bali. Makalah Pertemuan Forum Ilmiah BPPH dan BKK di Cisarua 19-21 Oktober
1981.
Syamsudin,
A., 1980. Vaksin Kolera Unggas Otogenous (VKUO) dan penggunaannya. Bull. LPPH,
12 (20) : 101-105
Sumber
: http://library.thinkquest.org/03oct/00946/accounts/micro.htm
Valks,
M, 2002. Cosumix Plus. Base,
Switzerland










No comments:
Post a Comment